Salam damai dan sejahtera...Selamat datang di situs saya: M Che Anam's Blog

11 Mei, 2009

Hermeneutika al-Qur’an Mulla Sadra

Ṣadr ad-Dīn Muḥammad Shīrāzī, juga disebut dng Mulla Sadrā (c. 1571–1636) adalah seorang ulama, teolog dan filsuf muslim asal Persia. Ia menjadi tokoh garda depan reanisance kultural di Iran pada abad ke 17. Mulla sadara disebut2 sbg tokoh utama mazhab Illuminationist (Ishraqi) dan pada umumnya dipandang oleh orang2 Iran sbg filsuf terbesar yg telah dihasilkan negri itu. Mazhab pemikiran filsafatnya disebut dng Transcendent Theosophy atau al-hikmah al-muta’liyah.

Mulla Sadra tentang Hermeneutika al-Qur’an
Umumnya para ulama berpendapat bahwa tafsir al-Qur’an muncul sebagai praktik alamiyah Nabi Muhammad SAW sendiri. Tujuan hermeneutika (yakni, memahami) al-Qur’an dan tafsirnya tidak-lah semata2 bersifat teoritis. Hermeneutika juga memiliki tujuan praktis, yg menjadikan teks tsb dapat diterapkan sebagai keyakinan dan jalan hidup kaum muslimin. Selama kurun waktu tertentu, di dunia Muslim, telah muncul beragam jenis tafsir. Karya2 tafsir tersebut masuk dalam kategori2 besar seperti: tekstual atau literal, fiqhi, teologis, filosofis, spiritual dll.

Sebetulnya sangat menarik utk mencermati secara sekilas persoalan hermeneutika al-Qur’an Mulla sadra. Mulla Sadra menulis tafsir atas bbrp surat dan ayat. Bahkan ia juga menulis sejumlah karya yg membahas ilmu2 tafsir. Dalam kitabnya Mafatih al-ghayb (Kunci Menuju Dunia Yg Tak Kasat-Mata) ia mendikusikan berbagai metode dan prinsip hermeneutika al-Qur’an.

Menurut Sadra, bahasa al-Qur’an memiliki sifat mutasyabih. Mutastabih biasanya diartikan dng suatu ungkapan yg belum pasti, indetermination, ambigu dan suatu kata yg struktur dasarnya memiliki sejumlah makna yg beraneka ragam.

Diantara tugas hermeneutika adalah menyingkap suatu makna2 yg tersembunyi dng makna2 yg jelas dan terang kemudian diungkapkan dng kata2 yg lugas. Menurut Sadra tugas ini belum mampu dilakukan oleh para mufasir. Dalam kata2nya yg lugas ia mengatakan: “Nothing of that which the exoteric commentators of The Qur’an, such as al-Zamakhshari and those who emulate him, have written is the true knowledge of The Qur’an or gnosis of the Divine Revelation in the true sense. All of that relates to philology, grammar and dialectic, and touches only the shell of the exterior revetment. The true knowledge of The Qur’an is something else”. (lihat Se Asl, ed. S.H.Nasr, Tehran, 1961, hal.84)

Lalu bagaimana cara mengetahui 'makna al-Qur'an yg sebenarnya (the true knowledge of The Qur’an)' menurut Sadra? Dan bagaimana ia sampai pada pengetahuan tsb? Menarik sekali sebetulnya utk mempelajari teorinya ttg bahasa al-Quran. Konsepnya ttg al-Qur’an sbg ujaran Tuhan beserta makna yg diimplikasinya, prinsip dan syarat2 hermeneutika al-Qur’an, serta metodologinya dalam karya tafsir al-Quran-nya yg berjudul Tafsir al-Kabir.

Sebetulnya sudah ada buku yg meneliti ttg hal ini, yakni buku yg berjudul "Mulla Sadra Shirazi on The Hermeneutic of The Qur’an" karya Prof. Latimah S.Peerwani. Sayangnya, masih sulit utk menjumpainya di negri tercinta ini.

Selengkapnya....

12 Maret, 2009

TERBANG BERSAMA KEHENINGAN

BERAT, itulah kata yang bisa mewakili tantangan hidup kekinian. Orang miskin dihadang penyakit di sana-sini. Orang kaya alisnya dibikin berkerut oleh berbagai masalah. Sebagian malah sudah dipenjara, sebagian lagi menuggu giliran untuk beristirahat di tempat yang sama. Manusia biasa menggendong berbagai beban ke sana ke mari (dari mencari nafkah, menyekolahkan anak sampai dengan mempersiapkan hari tua), pejabat maupun pengusaha juga serupa: senantiasa ditemani masalah kemanapun ia pergi. Di desa banyak orang mengeluh, luas tanah tetap namun jumlah manusia senantiasa tambah banyak. Sehingga setiap tahun memunculkan tantangan penciptaan lapangan kerja. Bila tidak terselesaikan ia bisa lari kemana-mana. Dari kejahatan sampai dengan kekerasan.

Digabung menjadi satu, jadilah kehidupan berwajah serba berat di sana-sini. Tidak saja di negara berkembang, di negara maju sekali pun tantangannya serupa. Kemajuan ekonomi Jepang yang demikian fantastis tidak bisa mengerem angka bunuh diri. Kemajuan peradaban Amerika tidak membuat negara ini berhenti menjadi konsumen obat tidur per kapita paling tinggi di dunia. Jangankan berbicara negeri Afrika seperti Botswana. Rata-rata harapan hidup hanya 30-an tahun. Orang dewasa di sana lebih dari 80 persen positif terjangkit HIV. Sehingga menimbulkan pertanyaan, "Demikian beratkah beban manusia untuk hidup?"

Ada sahabat yang menghubungkan beratnya hidup manusia dengan hukum gravitasinya Newton yang berpengaruh itu. Sudah menjadi pengetahuan publik, kalau Newton menemukan hukum ini ketika duduk di bawah pohon apel, dan tiba-tiba buahnya jatuh.

Sehingga Newton muda berspekulasi ketika itu, ada serangkaian hukum berat (baca: gravitasi) yang membuat semua benda jatuh ke bawah. Sahabat ini bertanya lebih dalam, "kalau gravitasi yang menarik apel jatuh ke bawah, lantas hukum apa yang membawanya naik ke puncak pohon apel?" Dengan jernih ia menyebut "The law of levitation" (hukum penguapan). Kalau gravitasi menarik apel ke bawah, penguapan menariknya ke arah atas.

Dalam bahasa yang lugas sekaligus cerdas, sahabat ini mengaitkan kedua hukum fisika ini ke dalam dua hukum kehidupan: "Hate is under the law of gravity, love is under the law of levitation."

Kebencian berkait erat dengan gravitasi karena mudah sekali membuat manusia hidup serba berat dan ditarik ke bawah. Cinta berkaitan dengan gerakan-gerakan ke atas. Karena hanya cinta yang membuat manusia ringan dan terbang ke atas. Sungguh sebuah bahan renungan kehidupan yang cerdas dan bernas.

Kembali ke soal hidup manusia yang serba berat, tidak ada manusia yang bebas sepenuhnya dari masalah. Bahkan ada yang menyederhanakan kehidupan dengan sebuah kata: penderitaan! Hanya saja kebencian berlebihan yang membuat semua ini menjadi semakin berat dan semakin berat lagi. Ada yang benci pada diri sendiri, ada yang membenci orang tua, suami, istri, teman, tetangga, atasan kerja, sampai dengan ada yang membenci Tuhan.

Perhatikan wajah-wajah manusia kekinian yang miskin senyum, yang mudah tersinggung, yang senantiasa minta diperhatikan, penerimaan bulanan yang serba kurang, dan masih bisa ditambah lagi dengan yang lain. Semuanya berakar pada yang satu: kebencian! Sehingga mudah dimengerti kalau perjalanan hidup seperti buah apel, semakin tua semakin berat dan semakin ditarik ke bawah.

Terinspirasi dari sinilah, kemudian sejumlah guru mengurangi sesedikit mungkin berjalan dalam hidup dengan beban-beban kebencian. Dan mencoba menarik kehidupan ke atas menggunakan sayap-sayap cinta. Semua perjalanan cinta mulai dari sini: mencintai kehidupan. Makanya sahabat-sahabat penekun meditasi Vipasana berkonsentrasi pada keluar masuknya nafas. Tidak saja karena membuat manusia mudah terhubung dengan hidup, tetapi berpelukan penuh cinta dengan kehidupan. Dan segelintir penekun Vipasana yang telah berjalan amat jauh, kemudian mengalami cosmic orgasm. Semacam orgasme kosmik yang ditandai oleh terlihatnya keindahan di mana-mana. Karena semuanya terlihat serba indah, tidak ada lagi dorongan untuk mencari jawaban. Bahkan pertanyaan sekalipun sudah lenyap dari kepala. Ini yang disebut seorang guru dengan terbang bersama keheningan.

Ada yang menyebut ini dengan emptiness. Sebuah terminologi timur yang amat susah untuk dijelaskan dengan kata-kata manusia. Namun Dainin Katagiri dalam Returning to Silence, menyebutkan: "The final goal is that we should not be obsessed with the result, whether good, bad or neutral." Keseluruhan upaya untuk tidak terikat dengan hasil. Itulah keheningan. Sehingga yang tersisa persis seperti hukum alam: kerja, kerja dan kerja. Dalam kerja seperti ini, manusia seperti matahari. Ditunggu tidak ditunggu, besok pagi ia terbit. Ada awan tidak ada awan, matahari tetap bersinar. Disukai atau dibenci, sore hari dimana pun ia akan terbenam.

Mirip dengan matahari yang tugasnya berbeda dengan awan dan bintang. Kita manusia juga serupa. Pengusaha bekerja di perusahaan. Penguasa bekerja di pemerintahan. Pekerja bekerja di tempat masing-masing. Penulis menulis. Pertapa bertapa. Pencinta yoga beryoga. Pengagum meditasi bermeditasi. Semuanya ada tempatnya masing-masing. Ada satu hal yang sama di antara mereka: "Menjadi semakin sempurna di jalan kerja". Soal hasil, sudah ada kekuatan amat sempurna yang sudah mengaturnya. Keinginan apalagi kebencian, hanya akan membuatnya jadi berat dan terlempar ke bawah.


oleh Gede Prama

Selengkapnya....